Posted in beautiful, poem

Asylum


Kamu tahu apa yang menerjang malam? Kegilaanku. Sedikit demi sedikit mulai tergambar wajah tak kukenal. Menggantikan rupa busuk seorang manusia. Sosoknya masih kabur tapi itu tidak hakiki ya. Perlu ditekankan dia hanya ilusi.

Sudah lebih baik karena tak lagi ada suara mengganggu. Kalau saja mereka terus menerjang, tuh disana suaka selalu menanti. Harusnya sedari dulu. Semenjak malam-malam memandangi ruang beratap kaca menjadi saksi lepasnya angan dari kenyataan.

Bisa sadar sendiri? Hah, apalah diriku ini, terlalu banyak mewujud nafsi. Terkadang jadi guru mengajari otak yang terlalu pepak, terkadang juga jadi dokter mengobati jiwa yang sedikit sinting. Sendiri. Dulu.

Sekarang ruang sesak dua kali dua meter lebih baik dari atap kaca tanpa jendela di sudut ruangan. Mengusir keinginan untuk berlari masuk ke dalam suaka bertembok besi. Untuk selamanya dikekang oleh sendiri, dibungkam suara yang mengikuti. Untuk berteriak sekeras mungkin tanpa cemas ada yang melirik iba.

Sweet_alyssum

 

~dHie, 26 Feb 2016~

Author:

From individual become social person. Taking a chance even in a really uncomfortable situation.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s