Posted in curhat, poem

ミザラバール (Miserable)


Andai ketika aku tak kuasa inginkan sendiriku, kau ada disini, diantara celah hati yang tak sengaja kubagi. Kalau yang semu itu masih menapakkan jejak di tempatku berdiri, rasa yang kunistakan tak pelak lagi kutentang. Tentang kau yang gila, kau yang tak peka dan kau yang tak punya cinta, aku tak sadar kalau yang semu itu cinta.

Aah… semua yang nyata tak bersisa! Hanya ada aku disini dengan semua kertas yang tampak berserak tak jelas di pelupuk mataku.

Sebelumnya. Ada dirimu. Satu makhluk yang diam-diam datang dalam sendiri. Ketika kau ada yang tumbuh itu adalah sebuah kebencian yang meradang di tiap dinding pembuluh aliran darahku. Ketika kenyataan yang ada kau tak pernah kekurangan cinta, virus-virus kebencian itu makin membengkak dan mengganas dalam jiwa dan pikiranku.

Kalau yang semu itu terbungkus lagi janji palsu, maka akulah yang selamanya ratu, dalam kebohongan yang masih saja kuterima untuk kubentuk jujur. Saat yang sepi diindah sendiri, melantun nyanyian sunyi yang perih, tapi cantik. Yang pergi itu telah kembali, tepat dihadapanku, di depan mataku. Akankah ku lagi-lagi terbelenggu ? apakah cinta yang itu semu ?

Sial.. mengapa harus ada satu kata benci mengiringi indahnya dirimu. Mengapa harus ada satu kata ragu menyelimuti pikirku. Mengapa harus ada satu kata diam mengiringi kidung surga yang kunyanyikan di belakang semua orang tentangmu.

Tapi kau tak pelak perlahan mendekati pilar-pilar kehidupanku yang tegak berdiri. Pilar-pilar yang kubangun untuk menghadang orang-orang sepertimu. Orang yang… gila! Kau itu sebenarnya orang yang seperti apa ? aku masih bertanya-tanya pria seperti apa yang kucintai ini. Mengapa diantara kecintaanku padamu, masih ada benci-benci merajai.

Tanya demi tanya yang terucap mulai membusuk di sela kejenuhan, bermain-main terus dengan dillema, menjadi terbiasa. Hingga tetap saja yang lemah itu adalah diriku, maka tak akan pernah ada kata satu dalam hidupku. Ternyata rasa itu bukan pura-pura lagi menyiksa.

Hatiku mencintainya, hatiku membencinya. Jiwaku menginginkannya, jiwaku ingin mengusirnya. Kata apa yang pantas untuk mendeskripsikan rasa ini. Rasa yang membingungkan, tapi jelas sudah terasa, cinta. Padahal semua ini hanya terpaut satu garis lurus, namun dengan bodohnya aku anggap ini sebagai lingkaran setan yang tak pernah putus. Dengan perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan mencari rasa yang tepat. Hilir mudik, keluar masuk rasa-rasa yang absurd tapi begitu jelas ada, malah tak mampu menguatkan diri untuk berpaling dari kegilaan yang dia miliki.

Aku ini menyedihkan. Aku mencintaimu tapi kau berada di balik dinding sana, menertawakanku. Rasa itu muncul selalu di tiap malam dan mimpiku. Kau tak pernah menganggapku sebagai sesuatu yang berharga di matamu, tak akan pernah! Dan bermimpi tentang memilikimu pun ternyata begitu sulit. Rasa yang ragu ini tak akan pernah bisa menyentuh kehidupanmu.

Bisakah dengan sisa-sisa kertas ini, rindu itu menghilang seiring berhembusnya angin dingin. Karena rindu itu lebih dingin dan menusuk dibandingkan dengan angin itu sendiri. Cinta, bisakah kau hanya diam disana dan aku memandangmu, tanpa kau harus berbalik memandangku dengan tatapan jijik karena tahu bahwa aku merasakan hal yang tak sepantasnya kurasakan…

2008年10 月 17 日

Author:

From individual become social person. Taking a chance even in a really uncomfortable situation.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s