Posted in story

Devils In My Room


Judul : Devils In My Room

Genre : Romance, Short-story

Rating : PG

 

Part 2

“tumben hari ini lo berasa girang banget Key..?” tanya Clash dibangkunya.

Key refleks memandang ke arah Clash, bingung juga mau jawab apa, “iya.. kan elo masuk kandidat calon ketua OSIS, gue bisa ikut famous karena gue temen sebangku elo..!”

Raut wajah Clash berubah seketika, seperti raut wajah Frish ketika dia bilang bahwa Key bisa membantunya sampai mengancam. Key jadi takut dan teringat lagi kalau Clash adalah iblis. Tapi tiba-tiba Clash tersenyum lagi dan mengelus rambut Key. Sekarang Key yang merubah raut wajahnya, dia merasa wajahnya panas ketika Clash mulai menyentuh poninya. Selama ini belum pernah ada cowok yang berani menyentuh rambut Key selain Wayne. Key lalu memalingkan wajahnya ke arah lain, sebelum jantung Key berdetak lebih kencang lagi.

Sementara itu Clash menampakkan senyum kecil di ujung bibirnya. Jantungnya pun tak kalah kencang berdetak. Angin berhembus dan ikut pula menghembuskan sebuah bisikkan tentang kenyataan yang terbalut kenistaan.

***

Key dengan santai membuka pintu kamarnya, dan dia sekarang tidak kaget lagi menemukan Frish sudah ada di atas kasurnya. Tapi saat ini Frish sedang tertidur lelap di atas bed cover Key yang berwarna putih itu.

“ngakunya iblis tapi bisa tidur pules juga..!!” gumam Key. Dia pun menatap terus wajah polos Frish yang terlelap dan tersenyum sendiri. Senyuman yang tulus dari hatinya bila dia melihat seorang lelaki.

Lalu Key pun kembali ke tasnya dan mengeluarkan semua buku-bukunya. Terdengar Frish menguap, dan Key langsung melirik ke arahnya.

“lo kok baru pulang Key..??” tanya Frish sambil mendekati Key.

“ada kampanye calon ketua OSIS gitu..!” jawab Key lalu melanjutkan membongkar tasnya.

“oh ya.. si Clash juga kampanye dong..!” ujar Frish.

Key langsung membalikkan badannya dan menemukan Frish sudah berada tepat di depannya, dekat sekali, dan wajah mereka hampir tak berjarak.

Tiba-tiba Frish makin mendekat sampai keningnya menyentuh kening Key. Dan dia bilang, “..dari tadi muka lo merah, lo sakit..??” tanya Frish datar.

Key segera memalingkan mukanya dari Frish, Frish pun kembali duduk di kasur Key. “..gue gak sakit.. biasa aja..!!” kata Key dengan nada yang agak tinggi.

“oh…”

Dan mereka kembali diam. Yang terjadi barusan bukan hal yang biasa. Key merasakan hal yang sama ketika tadi Clash menyentuh poninya dan ketika kening Frish berada di kening Key. Rasa yang Key rasakan benar-benar gak wajar, dia merasakan sesuatu kepada dua orang IBLIS.

Sementara Frish tersenyum sendiri, dia juga tak mengerti dengan apa yang dirasakannya.

“gak ada orang yang tahan gue sentuh kayak tadi sebelum elo..!” kata Frish tiba-tiba.

“maksud lo..?”

“maksud gue.. orang-orang yang gue mintain tolong, yang gak mau-mau, mereka malah ada yang sampai sakit gak sembuh-sembuh, ada yang ngurung diri di kamar, sampai ada yang pingsan kalo ngeliat cowok cakep..” ujar Frish, “..tapi elo enggak, berarti elo emang orang yang kepilih, dan gue beruntung..!” lanjutnya.

“Iya.. elo beruntung, gue yang sial..!” ucap Key.

Tapi ucapan Key itu membuat Frish jadi refleks berdiri dan.. “..gue pergi dulu..!!” katanya dengan sinis.

“hey Frish.. mau kemana, gue mau ngomong..!” panggil Key, tapi Frish sudah hilang entah kemana.

Key jadi serba salah sekarang, gak biasanya Frish jadi sensitif gitu, dia kan orangnya nrimo dan suka bercanda, padahal tadi Key memang hanya bercanda.

***

Sekarang Clash sudah terpilih jadi ketua OSIS. Dia jarang masuk jam pelajaran karena selalu diberi dispensasi. Begitu pun dengan Frish, dia gak datang lagi sudah 2 hari ini ke rumah Key, Key jadi merasa bersalah. Pikiran Key menumpuk saat ini.

“Frish itu emang marah sama gue atau udah gak peduli lagi sama Clash. Tapi.. gak papa lah, Clash juga gak berbuat macem-macem sama orang-orang disini juga sama Wayne..” gumam Key.

“woi.. Key, ayo cepetan pertandingannya udah dimulai..” seorang teman kelas Key berteriak. Hari ini ada pertandingan persahabatan sepak bola lawan Teritest, tentu aja Key harus lihat karena Wayne main disana.

Key segara berlari sambil membawa beberapa kaleng minuman karena disuruh Wayne. Di bangku penonton, tumben sekali banyak jaraknya, dan disana hanya ada beberapa orang cewek, itupun jauh sekali. Sementara Key harus berada agak dekat dengan pemain karena harus memberikan minuman pada Wayne dan lainnya. Lalu Key terpaksa duduk diantara beberapa orang cowok yang agak dia kenal.

“eh Key.. lo dateng juga..!!” kata seorang lelaki yang duduk disampingnya.

“ya iyalah.. emang gue suka dateng. Tumben ya, gak banyak yang nonton..!” jawab Key.

“semua pada pindah fans club.. terutama cewek-ceweknya..” lanjutnya lagi.

“maksud lo..??” Key agak bingung.

“iya.. sekarang ketua OSIS baru kita, si Clash, lagi ngomong soal visi misi-nya sebagai ketua OSIS di aula, otomatis cewek-cewek pada lihat dia gitu..!” ujar cowok itu.

“lho.. kok bisa barengan gitu..?” Key tambah kepikiran.

“au.. tuh pertandingannya udah mau mulai…!!”

Key terus berpikir tentang Clash, tapi segera dibuangnya jauh-jauh karena dia harus berkonsentrasi pada pertandingan Wayne, kalo tidak, Wayne bisa marah-marah.

Key pun mencoba menenangkan dirinya dengan serius menonton pertandingan yang seru di lapangan hijau di depannya, sampai salah seorang dari Anesh memasukkan bola ke dalam gawang, 1-0 untuk Anesh.

Sembilan puluh menit lebih, barulah pertandingan selesai dengan kemenangan 1-0 untuk anesh. Key menghampiri anak-anak sepakbola itu dan memberikan mereka minuman dengan pikiran yang masih kemana-mana.

Setelah dia menemui Wayne dan teman-temannya, tanpa pamit dia langsung berlari menuju aula. Disana dia melihat Clash yang sedang berbicara dengan pak kepala sekolah. Sementara itu di belakang Clash mengantri berbagai macam jenis cewek-cewek anesh.

Clash yang ternyata menyadari Key berada disitu segera menyudahi pembicaraannya dengan pak kepala sekolah dan menghampiri Key. Namun Key segera berlari dengan wajah kesalnya.

Clash segera mengejar Key sampai ke kantin. Disana Key sudah duduk di sebuah bangku.

“Key.. lo kenapa..??” tanya Clash.

Key menengok ke arah Clash, “jangan mentang-mentang lo punya kekuatan, lo bisa dapetin segala yang lo mau..!!”

Clash mengernyitkan dahinya, “kekuatan..?? maksud lo apa Key..??”

Key terhentak, hampir saja dia membocorkan semuanya, “kekuatan.. maksud gue.. lo sebagai ketua OSIS harusnya ngerti sama keadaan sekolah dong..!”

“lo.. lo kenapa sih Key, tiba-tiba marah-marah gak jelas kayak gini.. ada apa sih sebenernya..!” Clash menampakkan muka bingungnya.

Key benar-benar marah kali ini, tak bisa lagi dia sembunyikan amarahnya kepada iblis yang satu ini, “lo rakus.. gue benci sama lo..!!” lalu setelah dia memarahi Clash, dia langsung pergi. Oh my god,, semua buat Wayne..

Wajah Clash yang semula kebingungan, berubah menyungging senyum setelah Key pergi jauh. Bola matanya memerah, kuku-kukunya menjadi hitam. Pikirannya bercampur aduk. Dia ingin menjelajah seluruh pikiran gadis yang tadi memakinya itu. Perasaannya tak bisa lagi ditunda.

***

Key baru sampai ke rumahnya. Dia langsung pergi ke kamar dan menutup pintu kamarnya dengan keras. Disana tidak ada sesosokpun yang biasanya ditemui Key. Jadi tambah pikiran Key.

Tiba-tiba pintu balkonnya terbuka dan Frish masuk.

“loh Key.. kok dah pulang..?” tanya Frish.

“iya.. kemana sih lo kemaren.. gue jadi gak bisa ngomong sama elo..!” jawab Key masih dengan nada kesal.

“maaf deh.. lo kangen ya ama gue..!” ujar Frish. Ucapan Frish itu membuat Key sedikit lebih tenang karena ternyata Frish sudah kembali ke bentuk aslinya.

“kangen..?? yang ada gue benci banget liat muka lo yang mirip sama si Clash itu..! tapi sebenernya iya..!” kata Key.

Frish terhenyak mendengar kata-kata Key. Frish mendekati Key dan mengangkat wajahnya, ”key lo kenapa?“

“dia tuh ngeselin banget, dia bener-bener udah ngalihin perhatian semua cewek, gue gak ngerti apa maunya dia, dia gak bisa seenaknya gitu ngalihin orang-orang yang udah lama ngedukung Wayne sama anak-anak sepak bola lainnya, gue gak habis pikir what does he expect ? bingung gue sama dia… dan…”

Kata-kata key seketika itu berhenti, sebuah bibir lembut mendarat di bibirnya, lama dan dalam, tak terasa seperti.. .. .. IBLIS! Langsung key menarik mundur dirinya dan membelakangi frish.

“Key…”

“Frish.. gue mau sendirian dulu..!”

Setelah itu Frish pergi lewat balkon dengan perasaan yang sama dengan key. Key merasa ada yang mendidih dalam hatinya, namun tiba-tiba mendingin seperti es.

***

Gue aja gak tahu tinggalnya dimana, apa yang sehari-hari dia lakuin, walaupun yang gue tahu tiap hari dia ada di kasur gue, terus.. gue juga gak tahu sebenarnya ini semua nyata atau hanya cerita karangan seseorang.. oh Tuhan, apa kau masih ada disitu? Bisakah kau mendengarku? Kenapa kau ciptakan iblis juga bila manusia sudah cukup untuk ada di dunia, terus kenapa juga kau menempatkan rasa yang sama dengan yang dimiliki manusia padanya?

Key merasa tak berguna setelah hari itu terlewati, merasa bersalah setiap waktu. Frish gak datang selama dua hari ini, entah apa yang terjadi padanya, yang jelas bukannya Key tambah tenang, dia malah tambah bingung dan mengkhawatirkan Frish.

Key tidak tahu Clash mengikutinya sudah lama sejak dia masuk gerbang sekolah. Pikirannya kacau balau, tak mungkin dia bisa memahami apa yang orang-orang akan katakan hari ini. Sebaiknya dia tidak usah bertemu siapa-siapa sekarang. Jadi Key tak menuju kelas, dia pergi ke taman belakang sekolah yang sepi dan rimbun pepohonan.

Baru dia sadar Clash mengikutinya ketika dia duduk di sebuah bangku yang sudah tua dan hampir rapuh, tiba-tiba Clash duduk di sampingnya. Tambah lagi kecemasan Key dengan melihat wajah Clash yang benar-benar mirip dengan Frish.

“ngapain lo disini..?” tanya Key dengan kesal.

“lo sendiri..?” balas Clash.

“suka-suka gue..!! mendingan lo pergi deh, daripada gue kesel..!! gue gak mau ketemu siapa-siapa..! apalagi sama elo..!“ usir Key.

Clash lalu beranjak dari duduknya dan berdiri di depan Key. Clash mendekatkan wajahnya pada Key dan berbisik, “Key, malaikat itu gak ada.. yang ada Cuma gue..”

Setelah itu, tiba-tiba angin berhembus begitu kencang, menyibakkan rambut Clash. Debu-debu berterbangan dan daun-daun berguguran. Key memicingkan matanya agar tak terkena debu, tapi Key masih bisa melihat, mata Clash tak berkedip sedikitpun malah bola matanya berubah merah semerah darah.

Key menutup matanya rapat-rapat, takut akan gambaran yang ada di depannya. Angin masih berhembus, Frish tolong..!!!, hati Key berteriak.

Tiba-tiba sebuah daun menyapu pipi Clash dan jatuh di pangkuan Key. Lalu angin berhenti berhembus kencang. Clash mencium kening Key, lalu pergi meninggalkan Key yang tak bisa mengatur nafasnya.

***

Clash berjalan di koridor sekolah, dia melakukan yang benar menurutnya dan tinggal menunggu aksi berikutnya untuk menjadikan Key sesuatu yang berharga untuknya.

Baru Clash menemukan perempuan seperti Key. Perempuan yang mendekatinya namun begitu berani untuk mencelanya. Dan yang lebih tak disangka lagi, sebenarnya Clash sudah menancapkan sebuah Ism atau mantra bila ada di dekat Key, namun tak pernah Key menyadari dan tak ada efek apa-apa padanya, maka dari itu, Clash ingin langsung menunjukkan pada Key bahwa dia sebenarnya adalah Iblis yang bisa saja membunuhnya setiap saat. Namun dia sadar ada yang tak benar dengan rencananya, dan halangan itu nampak dengan jelas setiap saat. Ada mata di balik pepohonan, namun mata itu tak tahu bahwa mata yang lain yang dilihatnya punya mata batin yang tahu apa yang ada di balik pohon itu.

Murid-murid baru keluar dari kelasnya. Clash bersandar pada pintu menunggu teman-temannya keluar.

”ooi.. Clash, dari mana aja lo..?“ tanya seseorang.

“ada.. di sana gue tadi, sakit perut..!” jawab Clash.

Temannya itu memandang aneh pada Clash, Clash mengernyitkan dahinya, “liat apaan lo..?”

“pipi lo berdarah tuh Clash…!” katanya.

Clash menyentuh pipinya sendiri dan melihat darah di tangannya. Dia mengingat kembali apa yang terjadi tadi ketika bersama Key. Clash sontak kaget. Dia langsung berlari. Batinnya meraung cemas.

Frish… Cuma lo yang bisa ngelukain orang dengan mulus dan tanpa suara. Dan Cuma lo yang bisa mengendalikan luka itu sendiri.. !

Clash terus berlari sampai nafasnya tersengal-sengal. Dia pun tak menyadari bahwa tato di lehernya muncul secara perlahan hingga membuat murid-murid satu sekolahan memandang aneh padanya.

Frish… pantes aja angin tadi berhenti tiba-tiba, berasa gue yang berhentiin, kita masih punya jiwa yang sama kayaknya.. ternyata gue belum bisa menghentikan apapun.

Key.. kenapa lo harus gue tinggalin..??

***

Key menangis sendirian sepeninggalan Clash. Keringat dingin lagi-lagi memenuhi tubuhnya sama seperti pertama kali dia bertemu Frish, tapi ketakutannya ini tak akan pernah dia lupakan rasanya. Rasa takut yang besar, melihat sosok iblis yang benar-benar iblis dan ingat kalau iblis tersebut bisa saja mengambil nyawanya.

“Key..”

Key kaget, suara itu datang lagi, dia jadi makin takut. Suara itu datang dari sebelahnya. Key melirik arah suara itu.

“Frish..!”

Akhirnya yang dinanti Key itu datang juga, suaranya mirip sekali dengan Clash. Key dengan sekejap langsung memeluk Frish. Tangisan tumpah di bahu Frish.

“Frish.. makasih..!” kata Key. Frish hanya mengangguk.

“kenapa lo ada disini..?” lanjut Key, “elo yang bikin Clash pergi..?”

Frish menarik nafas dan menatap Key, “iya.. makanya sekarang kita pergi, Clash pasti udah tahu gue ada disini..!”

“pergi lewat mana, pasti ada Clash disana..!”

Frish berdiri. Tiba-tiba sebuah sayap hitam muncul di punggungnya. Frish mengulurkan tangannya pada Key. Key menyambutnya. Frish memeluk Key dan membawa Key terbang.

Key memeluk Frish erat, tak mau dia jatuh sama sekali. Begitu indahnya diatas sana, bagai mimpi yang tak mungkin tergapai, dan sekarang dia berada dibalik awan, bersama Frish, yang memakai baju hitam.

***

Clash masih berlari.

Di sisi sekolah yang sepi, semua seragam Clash tak ada lagi di tubuhnya, yang ada hanya baju serba hitam. Clash berhenti di tempat dia meninggalkan Key tadi, dan dia tak menemukan siapapun.

Clash menampakkan ekspresi murka di wajahnya. Matanya berubah lagi menjadi merah berapi. Tato-tato yang tampak di lehernya bercahaya seperti api.

Frish.. sembunyilah kau dimanapun.. !!!

Clash memandang langit. Tak ada yang sempurna, sekalipun kau, Sang Penguasa Angin!!

Lelaki dengan luka sayat di pipinya itu menghilang.

***

Key dan Frish sudah berada di dalam kamar Key. Mereka saling bertatapan dalam-dalam. Key sadar lalu segera duduk di kasur, dan Frish duduk di bangku belajar Key.

Key terus memperhatikan Frish yang mulai menyalakan rokoknya. Dia tersenyum sendiri, tak mungkin ada iblis setampan ini.

“kenapa Key..?” tanya Frish heran.

Key hanya tersenyum dan menggeleng, “Frish.. lo malaikat gue..” katanya.

Frish pun tersenyum, “lo salah.. gue ini iblis, gimana bisa gue jadi malaikat, itu kan hal yang bertentangan..” lalu dia tertawa.

Key tersenyum lagi, “lo adalah malaikat iblis..”

Frish memandang Key dan menghampirinya, mendekatkan wajahnya, “aneh-aneh aja, bukannya lo dulu takut sama gue..?” katanya sambil mengelus kepala Key.

Angin dari luar berhembus kencang lewat balkon Key yang tak tertutup. Key dan Frish serta merta menoleh bersamaan. Ada cahaya disana yang menyilaukan mata, cahaya dengan warna merah yang siap membakar apapun sepertinya.

Setelah cahayanya menghilang, sosok Clash muncul disana, dengan baju yang tak seperti biasa dilihat Key. Frish dan Clash saling memandang.

“akhirnya kita ketemu juga, Frish…!” Clash menyunggingkan sebuah senyuman sinis pada kembarannya itu.

Frish berdiri tepat di depan Clash. Dua orang yang punya wajah sama itu saling berhadapan. Tatapan mata mereka bagai petir yang saling menyambar. Angin masih berhembus, dan dari hembusannya ia membawa getir yang dibalut kebencian. Entah apa yang merasuki angin itu hingga sebuah kesedihan bisa tersembunyi dibalik keinginan kuat untuk menghancurkan.

Key mengepalkan tangannya di dada, cemas melihat kedua iblis di depannya saling bertatapan menembakkan kebencian satu sama lain lewat matanya. Tak ada yang bisa Key lakukan selain diam dan berdoa. Dia terus menunduk dan menahan air matanya agar tak keluar.

Clash melirik Key yang terus menunduk lalu menatap Frish lagi, ”apa gak ada yang lebih bagus dari dia, Frish.. atau memang.. gak ada lagi yang mau lo manfaatin..?“ ujarnya.

Frish tampak marah, dia menutup matanya dan mengangkat tangannya. Ketika dia membuka mata, dengan sekejap cahaya biru keluar dari ujung tangannya dan mengarah pada Clash. Clash terjatuh keras sekali dan menjauh beberapa langkah. Key kaget dan melirik Frish dengan cemas.

Clash tampak memegangi perutnya lalu berdiri. Seketika itu dia tertawa lagi, ”masih banyak yang harus gue perbaiki kayaknya, Frish..!“ dikatanya yang terakhir Clash mengeluarkan cahaya warna merah dari ujung tangannya yang mengarah pada Frish. Frish kini terjungkal dan menabrak meja belajar Key.

Key menghampiri Frish yang juga memegangi perutnya, ”Frish..!!“ Key cemas.

Frish segera berdiri dan menatap tajam lagi pada Clash. Mata mereka yang benar-benar sama sudah menjadi senjata bagi mereka untuk saling melempar kebencian yang sama.

Frish menarik nafas dalam-dalam, ”gue gak mau kita fight disini, kita punya masalah sendiri-sendiri, bukan urusan Key..!“ ujarnya.

Clash tertawa lagi dan menatap Key. Key ketakutan dirinya ada lagi dalam masalah saudara kembar ini.

”gue ada dimana lo tahu gue ada, terserah lo mau dateng kapan, yang jelas gue ada disana..!“ ujar Clash. Dia langsung terbang lewat balkon Key.

Key memeluk Frish. Dia jatuhkan semua air matanya di dada Frish. Frish menciumi kepala Key dan mencoba menenangkannya.

”gue akhiri ini sekarang juga..“

***

Wayne berkeringat dingin, dia tak tahu apa yang sudah terjadi dengan apa yang sudah dia lihat. Tadi Wayne melihat Clash berlari dan muncul tato di lehernya. Wayne tak mengerti juga apa yang terjadi ketika tiba-tiba Clash mengganti pakaiannya menjadi seram. Wayne mencoba untuk berpikir logis, tak ada apa-apa yang terjadi.

Karena memikirkan hal ini, Wayne masih di sekolah ketika matahari mulai terbenam dimana yang lainnya sudah tak memungkinkan lagi berada di sekitar sekolah. Wayne berjalan di sebelah lapangan dan dia melihat sebuah sosok disana. Sosok yang tinggi dengan wajah tampan tapi menyeramkan dengan tato di lehernya. Baju hitam tanpa lengan yang ia pakai juga membuat tato artistik panjang di lengan kirinya terlihat. Sosok lelaki dengan rambut panjang sebahu yang menutupi setengah telinganya namun tak menutupi anting yang menggantung di telinganya.

Wayne menatap lebih dalam lelaki itu. Clash!!! Sangat terkejut ia, apalagi sekarang Clash memainkan bola api dengan tangan kanannya. Wayne menyembunyikan wajahnya dibalik tiang penyangga, menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi.

Angin berhembus kencang lagi, Wayne terus menatap Clash yang rambutnya tersibak angin. Lalu ia melihat Clash menatap ke udara. Refleks Wayne ikutan Clash untuk menatap ke arah yang sama.

Dan terkejutlah Wayne dengan apa yang dia lihat. Sesosok yang mirip sekali dengan Clash berada disana yang disebelahnya menggandeng seorang wanita dengan seragam, Anesh!! Wayne mulai menatap wanita itu dengan seksama, makin dekat, makin dekat, dan dia mendapati.. ya Tuhan.. Key..!!!

***

Frish membawa Key terbang lagi dan sampailah mereka ke atas atap Anesh. Key ketakutan berada di atas sana, dia terus memeluk Frish sampai angin berhembus kencang dan Clash menatap mereka.

Frish terbang menghampiri Clash dan mereka kini berhadapan lagi. Dengan baju yang sama, rambut yang sama, tato yang sama namun anting yang berbeda. Bintang menggantung di telinga Clash sementara bulan ada di telinga Frish. Clash mulai menampakkan api dimana-mana termasuk di bola matanya. Sementara sang penguasa angin, Frish, mengumpulkan angin ditangannya.

Frish meninggalkan kegiatannya mengumpulkan angin, ”selesaikan ini, Clash..!“

Clash tertawa, ”bukan gue tapi elo, apa bedanya gue sama elo yang dilumuri dendam..!“

”apa bedanya elo sama gue yang sama-sama iblis..!“

Clash terhenyak dan menatap Frish lama. Sudah lama Clash menjadi setengah iblis setengah manusia. Apa yang membedakan iblis dengan manusia ? tak ada. Manusia selalu berkehendak, terobsesi, bernafsu juga selalu menghalalkan segala cara yang tak beda dengan sifat iblis. Sebenarnya iblis yang juga tak pernah mau mengaku dirinya iblis adalah manusia. Dan tak pernah ada sesuatu apapun yang menyerupai malaikat.

”apa bedanya lo sama malaikat..?“ Clash balik bertanya. Yang sekarang berbalik jadi Frish yang terhenyak.

”gue bukan malaikat..!!“

”tapi elo yang selalu ngelanggar…!!!“

”gue bukan malaikat..!!“

”elo gak pernah mau berubah…!!“

Sebuah cahaya berwarna biru keluar lagi dari ujung tangan Frish dan mengenai Clash. Dengan keras Clash terjungkal. Frish menampakkan raut cemas di mukanya dan nafasnya tersengal-sengal.

”lo ngomong sekali lagi.. lo mati..!!! elo yang gak mau berubah, elo yang terlalu terobsesi.. elo pembunuh..!!“

Kata-kata Frish yang terakhir membuat wajah Clash mendongak dan tersenyum sinis, ”cinta bisa makan apa aja yang ada di depannya..“ ujar Clash, lalu dia melirik Key. Clash mengeluarkan cahaya yang mengarah pada Key, cahaya itu membelenggu Key dan menariknya ke dekat Clash.

”jangan bawa-bawa dia..“

”jadi, cinta lo yang mana.. cewek lo atau yang ini..?“

Frish geram, dia juga mengeluarkan cahaya dari yang mengarah ke tiang penyangga sekolah lalu menarik seseorang dari sana, Wayne.

Key dan Clash tampak kaget bersamaan, ”Wayne..!! ngapain lo disini..!!“ kata Key.

Wayne ketakutan setengah mati dibelenggu oleh Frish, ”Key.. jelasin ini semua..!“ pintanya pada Key.

Frish tersenyum pada Clash, ”gue tahu, dia sasaran lo yang selanjutnya.. kenapa lo belum bunuh dia sekarang juga..??“

Tapi Clash malah tertawa keras, ”sekali lagi lo salah, bukan dia, tapi Key..!!“ Clash tertunduk sekarang menelan ludahnya, lalu tampak bulir-bulir air di matanya.

”Frish… Semua yang ada diri elo itu bertambah tapi lo gak nyadar, ketika ada penambahan itu, ada yang hilang dari diri lo, yaitu jiwa yang menyatukan kita.. lo udah ngebuang gue jauh-jauh, di hati lo udah gak ada gue, karena lo Cuma pengen sempurna, sempurna, dan sempurna..!!!“ dengan amarah yang tersisa, Clash mengungkapkan semua yang dia pendam terhadap apa yang dia sayangi.

”gak mungkin..!!!!!“ Amarah Frish tak bisa lagi diredam, dia membalikkan tubuh Wayne sampai Wayne terjatuh di tanah dan mengarahkan sebuah cahaya pada Wayne. Wayne terbunuh saat itu juga.

Key menjerit dalam hati, air matanya keluar banyak namun tak dirasanya. Apa yang dilakukan Frish tak sampai di pikirannya. Lengkap sudah penderitaannya saat ini. Dia berada diantara dua iblis yang tak dia tahu apa yang ada di pikiran kedua iblis tersebut. Tak dia sangka, Clash yang dulu dia pikir jahat dan akan membunuhnya dari tadi belum menggunakan kekuatan apa-apa. Sementara Frish, malaikat iblis-nya, telah membunuh malaikatnya yang terdahulu. Lemas, Key jatuh terduduk di bawah kaki Clash.

Frish yang mulai berapi-api tak bisa lagi meredam dendamnya dan mengatasi keinginannya mencapai kesempurnaan, sebentar itu dia lupa pada Key. Tanah di sekitarnya mulai retak disana-sini.

”sekarang lo sadar, Frish..!! gak ada yang sempurna di dunia ini, Cuma malaikat, dan lo gak akan pernah bisa sampe kesana.. menuju kemurnian..!“ ujar Clash, ”gue tahu, lo ngincer Key dari dulu, tapi karena gue masuk sini, lo berdalih semua inti ada di gue, dan terulang lagi semuanya seperti yang terjadi sama cewek lo, lo jatuh cinta kan sama Key..??“

”…emangnya lo enggak..??!!!“

Kali ini Clash yang mengeluarkan cahaya menyerupai api dari tangannya dan mengenai badan Frish. Seketika Frish juga terjungkal, keluar darah dari mulutnya. Frish terbaring dan belum kuat untuk bangkit lagi.

Clash berjongkok dan mengelus kepala Key, ”sebentar lagi gue mati, gue udah telat ngatasin semua ini..“ Clash menyibakkan rambut yang ada di samping telinga Key, mengelus telinga kanan Key tersebut lalu menutupnya lagi dengan rambut panjang Key, ”Key.. ada kehidupan setelah kehidupan..“ setelah itu Clash mencium Key dengan lembut.

Tiba-tiba sebuah cahaya mengarah pada Clash yang masih mencium Key. Frish mengerahkan semua kekuatannya untuk membuat Clash tak berdaya. Tak pernah ada kata-kata yang keluar dari mulut Frish. Clash sudah tak berdaya sekarang. Frish terus mengeluarkan cahayanya dan mengangkat tubuh Clash, tak lama Clash tampak sudah tak bernyawa lagi.

Frish menghampiri Key dan menyentuh kepala Key.

Key merasakan ada yang aneh di telinga kanannya. Dia menutupi kedua telinganya. Frish merasa ada yang tak beres dengan Key. Key kesakitan. Tak lama, dia berhenti meringis dan menatap Frish. Dengan matanya yang kini berwarna merah.

Angin bagai berkumpul di sekitar Key dan menyibakkan rambutnya, Key tak sadar dengan apa yang dilakukannya. Cahaya besar keluar dari tangan Key dan mengarah pada Frish. Kekagetan Frish membuat dia tak melakukan apa-apa. Frish didera sebuah kekuatan yang tak dia tahu, yang berasal dari Key. Frish mulai hancur dan tak lama, nyawanya hilang. Iblis itu telah mati.

Sesudahnya Key ambruk. Namun setelah itu ia merasa dirinya terbang…

***

BEBERAPA MINGGU KEMUDIAN…

Key membuka mata dan mendapati dirinya bermandi keringat dingin dibalik selimut. Bagai amnesia, tiba-tiba Key tak tahu siapa dirinya selama beberapa detik. Namun setelah dia bangun seluruh pikiran menancapkan ujungnya di kepala Key. Semua yang dia alami. Sekarang dia tahu siapa dirinya.

Key turun dari tempat tidur, dia memakai baju tidur serba hitam semalam. Sehitam hidupnya saat ini. Perubahan pada dirinya mulai tampak satu-persatu. Key lebih sering memakai baju hitam bahkan jika sedang tidur. Bajunya tak pernah lagi tertutup, tidur kali ini saja, dia memakai tank-top dan hotpants.

Seragamnya mulai pendek 5-8 centi di atas lutut. Jas warna marun yang selalu dipakainya tiap hari, mulai tak pernah ia pakai lagi, hanya kemeja, dasi dan rompi kalau diperlukan. Pergi ke sekolah, tak pernah rambutnya ia kepang lagi , selalu menutupi telinganya.

Key masih di kelas yang sama, hari ini jam setengah tujuh dia sudah sampai, beberapa orang sudah datang. Di bangkunya dia duduk, belum ada yang menemani.

Jam tujuh kurang sepuluh menit, seseorang datang dan menaruh tasnya di sebelah bangku Key. Setelah ia duduk, dia langsung mencium pipi kanan Key dan berbisik, ”pagi.. sweetheart..!“

Key menoleh pada yang menyapa dan menyunggingkan sedikit senyuman di ujung bibirnya.

Tak lama, bel masuk berbunyi. Tak ada satupun guru yang datang. Di sela-sela itu, bangku Key mulai lagi dikerumuni beberapa orang, untuk menanyakan hal yang sama setiap hari.

Pertanyaan pertama :

”Key.. lo pacaran sama temen sebangku lo..??“

”iya..“ jawab Key singkat. Lalu dia tertawa.

Pertanyaan kedua :

”Key.. kenapa lo gak jadi manajer sepak bola lagi..??“

”gak mau..“ jawabnya. Dan dia pun tertawa lagi.

Bosan dengan semua pertanyaan, Key selalu mengajak ’pacarnya‘ ke taman belakang sekolah dan bersembunyi di balik pohon besar yang ada disana berdua. Itulah tempat mereka sekarang.

Key dipeluknya, disentuh wajahnya. Key bagai tak tahu siapa dirinya ketika bersama kekasihnya itu, juga bagai tak punya masa lalu lagi. Yang ada hanyalah masa depan di awan bersama kekasihnya selamanya.

”kapan kamu bawa aku ke langit..?“ tanya Key.

”sekarang..“ dia berbisik di telinga Key, ”kamu tahu ini gak bisa dilepas lagi..?“ tanyanya sambil mencium anting yang menggantung di telinga Key.

Key mengangguk, ”kalau itu bisa buat kamu hidup selamanya, aku bahagia kamu hidup..“

Dia memberikan senyuman pada Key, wajah mereka hampir tak berjarak lagi, dekat sekali, ”selama kamu masih bernafas dan detak jantungmu masih terasa, selama itu aku akan terus hidup.. terima kasih kamu sudah mau memakainya terus..!“ mereka pun bergenggaman tangan, ”asal kamu tahu, aku lebih pintar dari iblis manapun, juga lebih punya cinta daripada mereka..“

Pasangan yang memakai anting bintang yang sama itu berciuman. Lalu muncul sayap, hitam, di masing-masing punggung mereka. Mereka terbang, berpelukan di udara. Pasangan iblis itu tertawa bahagia katanya.

Mereka saling memandang satu sama lain, ”aku akan terbang selamanya kan, Clash..??“ tanya Key.

Clash pun mengangguk. Lalu Key tertawa bebas, tanpa Clash ketahui. Batinnya merangkak menuju tempat dimana api membawanya menjadi seseorang yang lain. Api dalam mutiara…

The End Of The Fire . . .

Author:

From individual become social person. Taking a chance even in a really uncomfortable situation.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s