Posted in story

Devils In My Room


Judul : Devils In My Room

Genre : Romance, Short-Story

Rating : PG

 

Part 1

 

Dia datang entah dari tanah entah dari langit. Dalam kesenyapan dia masih berjalan di pekatnya malam. Angin dingin menyibakkan rambut yang menutupi telinganya juga menyamarkan matanya yang tajam. Tubuh atletisnya terbalut jubah hitam panjang dengan kerah yang menutupi sebagian mulutnya. Lelaki itu bersayap, hitam. Tiba-tiba kesenyapan itu hilang seiring dengan pijakan sepatu boots dari kaki sang lelaki yang entah datang dari mana.. .. ..

 

***

 

“aaa..!” Key histeris. Seseorang datang begitu saja lewat pintu balkonnya. Tanpa mengetuk tanpa salam, lelaki itu ngeloyor masuk begitu saja.

Key menutup matanya namun masih bisa mendengar lelaki itu berjalan dari suara sepatu boots-nya. Sangat ketakutan, Key tidak berani ber-spekulasi tentang siapa lelaki itu. Apa dia manusia atau…

“Key..” suara itu bergema di kamar Key.

Key mencoba membuka matanya dan menangkap suara tersebut, ketakutan masih merajai dirinya. Key mendongak dan dengan segera matanya menangkap sebuah cahaya yang menyilaukan matanya walaupun malam pekat sekali. Cahaya itu berasal dari kalung yang tergantung di leher lelaki itu. Lalu dengan cepat Key menghindar ketika lelaki itu terus mencoba menghilangkan jarak dengannya. Tapi Key malah terpojok di dinding kamarnya hingga lelaki itu dengan mudah mendekati Key. Kini mereka tak berjarak. Key mulai berkeringat dingin, dan lama-kelamaan Key mulai tak merasakan jejaknya sendiri, semuanya buyar di penglihatannya..

 

ba

 

Key terhenyak, keringat dingin masih membasahi tubuhnya. Key melihat sekeliling kamarnya. Semuanya masih normal, dia berada di atas tempat tidurnya, dan pintu balkonnya tertutup rapat, juga kertas-kertas yang dia tulisi semalam masih rapi berada di meja belajarnya.

Seseorang membukakan pintu kamarnya dan membuat Key kaget.

“sayang… cepet mandi.. kamu mulai sekolah kan sekarang..?” seru mamanya sambil membukakan gorden.

Key hanya mengangguk. Nafasnya masih tak normal, hingga mamanya merasa aneh, “Key kamu sakit..?”

“hah.. enggak ma..! Key mau mandi dulu..!” jawab Key lemas.

 

***

 

Key berdiri di depan gerbang sekolahnya. Plang besar dengan tulisan Anesh Senior High School ada diatas gerbang tersebut. Seharusnya ini bisa jadi hari pertama sekolah yang menyenangkan di tahun ajaran baru, tapi “nightmare” yang datang tadi malam membuat semuanya buyar. Semua seakan nyata, sampai pusingnya masih terasa.

Key berjalan dengan kepala tertunduk hinga seseorang yang membawa sebotol minuman menabraknya dan minumannya tumpah lalu membasahi rok Key yang warnanya hitam itu. Key minta maaf dan langsung menuju sebuah keran yang terletak di taman sebelah pos satpam untuk membersihkan rok-nya. Ketika Key baru saja memutar keran, dia melihat sesosok di sebelah pohon besar memakai celana hitam dan jaket hitam, rambutnya pun hitam dan agak panjang. Key jadi teringat lagi mimpi buruknya, orang itu mirip sekali dengan lelaki yang ada di mimpinya. Key segera berlari menuju kelas. Tapi dia merasa tersesat karena sampai saat ini Key tidak tahu dimana kelasnya.

Tiba-tiba seseorang meneyentuh pundak Key, refleks Key menoleh ke belakang dengan wajah kagetnya.

“Key.. ngapain disini..?” tanya seorang gadis.

“Ran..!!” Key menarik nafas lega karena ada seseorang yang menyapanya dan bukan lelaki itu.

“Key.. lo keringetan tuh, habis marathon ya..!” Ran sama sekali tak khawatir dengan wajah cemas Key.

Key masih mencoba untuk menetralkan suasana pikirannya dan menormalkan laju nafasnya, “oke.. kelas kita dimana..?” tanya Key akhirnya.

“di depan sana.. dan lo ngapain disini, ini kan WC cowok..!”

“hah…!!”

 

***

 

“so.. lo ceritain dong mimpi lo itu..?” pinta Ran.

Key geleng-geleng kepala, bukan menolak untuk menceritakan, tapi dia sudah tak bisa lagi mentolerir mimpi yang sangat mengganggu itu.

“gue gak ngerti.. gue Cuma nulis sesuatu di kertas yang kita temuin waktu itu Ran, dan yang gue tulis itu dateng beneran..!” Key mencoba menahan emosinya.

“kertas..? maksud lo kertas yang ada di dalem tempat diarinya Frish..? tuh, gue bilang juga apa, itu pasti punya Frish,serem banget sih Key..! Key…”

“gak percaya..!!! itu Cuma tempat diari yang jatuh di jalan, itu doang..!” tegas Key.

“di sebuah rumah Key.. inget itu..!! malem-malem pas kita ada acara malem dari sekolah, kita denger sebuah cerita tentang hantu Frish yang dibunuh sama ceweknya dan cewek itu juga malah bunuh diri, dan ternyata Cuma kita berdua yang ditantang ke rumah itu..! emang disana kita gak nemuin hantu atau sebagainya, tapi kita nemuin tempat diari itu kan, yang lo bilang itu ‘lucu banget’ karena ada gambar kupu-kupunya, gue bilang juga apa.. itu pasti punya hantunya Frish, lo gak percaya dan malah bawa tuh diari..!” Ran ngomong panjang lebar untuk mengingatkan Key, “sekarang dimana tempat diari itu..?”

“di kamar gue..!”

Mereka pun segera ke kamar Key. Key segera menuju meja belajarnya dan mencari-cari tempat diari itu, tapi tidak ada dimana-mana.

“dimana Key..?” tanya Ran yang mulai panik.

“gak ada..! gue inget banget, tuh diari gue simpen di atas meja belajar gue, tadi pagi masih ada..!” Key berusaha mengingat-ingat lalu mencarinya ke seluruh ruangan.

Ponsel Ran berbunyi, “halo.. oke Ran balik sekarang ma..! kayaknya besok aja deh Key, gue dah disuruh balik ma nyokap dan mau malem soalnya.. bye..” dan Ran langsung pergi.

Key terduduk lesu di ujung tempat tidurnya, dia hampir frustasi , “aaa… gue gak mau lo hantuin.. lo mau apa, bilang aja..!!”

Key tiba-tiba terhenyak ketika dia mencium bau sesuatu dari belakangnya, bau sesuatu yang kurang disukainya, bau asap rokok..!! Key pelan-pelan menoleh ke tempat tidurnya, dan seseorang berada disana! Key segera beranjak dan menjauhkan diri dari tempatnya sampai menempel ke dinding.

Lelaki itu masih bersandar di ranjang dengan menghisap rokoknya dalam-dalam. Dia dengan tenangnya merokok disitu walaupun melihat Key ketakutan setengah mati.

Key mencoba untuk berlari karena ketakutan, tapi dia merasa kakinya begitu terpaku di tempatnya berdiri. Dia sangat ketakutan, apalagi ketika lelaki itu berdiri di tempat tidurnya dan membuang rokoknya kemana saja. Lelaki itu mulai berjalan mendekati Key. Key mulai berdoa dan berharap ini hanya mimpi lagi. Sekarang pusingnya makin menjadi. Key benar-benar ambruk sekarang.

 

***

 

Seperti kemarin, Key membuka matanya karena sinar matahari menembus jendela pada pintu balkon yang ternyata lupa ditutupnya. Dia memang tak langsung terhenyak karena kepalanya berat sekali. Sama seperti kemarin pagi, dia telah ada di atas tempat tidurnya dan semua yang berhubungan dengan kejadian sebelumnya hilang begitu saja. Itu yang membuat Key mengira semuanya hanyalah mimpi. Tapi dia yakin semuanya itu nyata.

“Key, belum bangun..?” mama Key membuka pintu sekaligus bertanya, “ya ampun Key, kamu sakit..?” Mama Key segera menghampiri Key dengan cemas dan menyentuh kening Key yang ternyata panas, “Key gak usah sekolah, nanti mama panggilkan dokter..!” mama Key tampak sangat cemas dan panik sambil keluar dari kamar Key.

Key seperti mati, dia benar-benar tak dapat bergerak, semua terasa panas baginya. Key menutup matanya lagi, karena ternyata untuk membuka matapun sangat berat baginya.

 

***

 

Key membuka matanya perlahan, dia rasa sudah seperti seabad matanya tertutup, Key melihat sekeliling, dan yang didapatnya adalah suasana berbeda, ini bukan di kamarnya.

“Key.. Key.. tante..!! Key udah sadar nih..!!” suara itu memekak di telinga Key yang masih beradaptasi dengan dunia lagi.

“aduh Key.. kamu itu bikin mama panik aja deh, kamu kenapa sih bisa sakit, kemarin kamu kan langsung pulang ke rumah sama Ran..!” sergap mama Key panik.

Key masih lemas, dia belum bisa bergerak bebas di atas tempat tidurnya, pada pergelangannya pun masih menancap jarum infus.

“apa Key separah itu ma..?” tanya Key sambil menerawang.

“aduh Key.. mama gak bisa lagi deh tenang ngelihat kamu beberapa jam yang lalu itu, kamu itu udah kayak orang mati Key..!” ujar mama Key.

Tak lama kemudian, mama Key pulang ke rumah dan meminta Ran untuk menemani Key untuk malam ini saja, dan Ran pun menurutinya, karena benar-benar banyak yang dia ingin ketahui dari Key.

“oke.. lo kenapa lagi Key..?” tanya Ran.

Key diam beberapa saat, lalu tak lama air matanya keluar. Sekarang ketakutannya makin menjadi, dia tak kuat lagi menahan siksaan yang ketakutannya buat.

“ya ampun Key..!!” kata Ran cemas, “..lo kenapa bisa sampai kayak gini..?”

“gue bener-bener takut Ran..!!” ujar Key dengan suara yang bergetar sambil menggenggam tangan Ran.

“emang segitu seremnya, ya, tuh hantu.. mukanya berdarah-darah gitu, atau matanya keluar, atau juga seluruh tubuhnya penuh darah atau…”

“enggak sama sekali..” potong Key. Lalu dia berusaha untuk mengingat-ingat kembali sosok lelaki yang pernah dua kali mendatanginya itu, “..mukanya bersih banget, walaupun gue gak pernah dengan jelas ngeliat mukanya karena selalu nunduk dan mukanya selalu ketutup sama rambutnya, tubuhnya bener-bener cowok banget, tinggi, seksi, rambutnya tipe-tipe harajuku gitu deh..!” lalu Key menghela nafas panjang, “..ini seperti nyata.. bukan Cuma mimpi atau pun khayalan, kalu Cuma mimpi gue gak mungkin setakut ini..!”

“terus.. apa yang membuat lo pikir kalo ini Cuma mimpi..?”

“soalnya, setiap pagi gue selalu ada di kasur gue, secara.. gue nyadar banget kalo semalem tuh gue ambruk..”

Ran pun mencoba menenangkan Key dan memberi contoh hal-hal yang positif yang bisa dia dapat.

“Key.. sorry nih kalo gue musti bilang..!” Ran ingin berkata tapi terbata-bata.

“kenapa Ran..?”

“gue… lusa kan musti berangkat..!”

“berangkat..??” Key agak sulit mencerna kata-kata Ran, tapi akhirnya dia kaget, “..ya ampun Ran, sorry banget.. gara-gara ini semua gue jadi lupa sama kepindahan lo.. ya ampun.. Ran..”

 

***

 

Hari ini Ran berangkat ke kota dimana orang tuanya bekerja sekarang.

Sebenarnya ini sudah dibicarakan oleh Ran dan Key berjauh-jauh hari, sampai sempat Key tidak setuju, karena gak ada lagi teman sebangku yang punya kesukaan yang sama. Selama ini hanya Ran yang selalu punya jadwal menginap di rumah Key dengan teratur, walaupun mereka baru berteman sejak masuk SMA.

“Key.. lo pasti bisa menyelesaikan masalah ini sendiri, asal ada keinginan dari hati lo sendiri.. kalo lo butuh temen ceritaan, lo bisa telepon gue kapan aja..!” ujar Ran, sambil Key melepasnya pergi.

Setelah itu Key pulang dan langsung menuju kamarnya. Disana dia mengingat-ingat kenangan bersama Ran yang benar-benar gila-gilaan. Agak menyedihkan memang, Key pun sampai menerawang dan tak terasa dia diam begitu lama sampai hari mulai menjelang malam.

“sendirian Key..??!”

Key terperanjat mendengar suara tersebut, suara lelaki yang pernah didengarnya. Key menjelajah sekeliling ruangan mencari suara tersebut, namun tak ada seorangpun disana. Key mulai takut lagi.

“kesepian..?”

Suara itu mulai menjadi alasan Key ketika keringat dingin keluar dari tubuhnya. Key naik ke atas kasur dengan cepat dan menarik selimutnya juga memeluk sebuah bantal.

Tiba-tiba sebuah sosok muncul perlahan di ujung tempat tidur Key. Lelaki itu muncul dengan dresscode berbeda kali ini, tak ada lagi jubah yang menutupi seluruh tubuhnya, namun masih serba hitam. Sekarang dia memakai kaus tanpa lengan hingga tatto panjang di lengan kirinya benar-benar terlihat. Di tubuhnya banyak sekali rantai dan dia memakai kalung yang besar dan panjang di lehernya juga sepasang anting berbentuk bulan yang menggantung di kedua telinganya. Yang aneh, entah lelaki itu pakai rok panjang atau celana.

Lupakan tentang pakaian yang lelaki-atau sekarang kita panggil dia hantu aja mungkin-itu gunakan. Sekarang balik lagi ke Key yang masih ketakutan. Dia tarik selimutnya sampai menutupi seluruh badannya. Di dalam selimut itu, Key terus mengucap sumpah serapah, berdoa, dan.. pokoknya dia nyerocos terus disana.

“gue udah nyangka kalo elo pasti setakut itu sama hantu..!” kata lelaki itu membuat Key kaget setengah mati, “..tapi, please.. sekali ini aja lo jangan pingsan lagi ya..!”

Key membuka sedikit-sedikit selimutnya, lalu mengintip ke arah lelaki itu yang ternyata sedang menyibakkan rambutnya hingga sekarang Key bisa dengan jelas melihat wajahnya yang ternyata tampan, putih bersih. Dengan keberanian yang tersisa, Key mulai membuka selimutnya dan mencoba menatap lebih dalam lelaki itu. Kalau memang mau mencoba berpikir untuk kesekian kalinya, lelaki itu gak ada nyeremin-nyeremin-nya sama sekali. Malahan tipe cowok ‘boys love’ yang ada di komik-komik. Tapi tetep aja dia hantu, itu yang ada di pikiran Key.

“gak.. gak mungkin, lo pasti hantu jelek yang lagi nyamar kan.. gak mau..!! tolong, jangan ganggu gue terus..!!” Key histeris, sambil terus menutup matanya, “aa..!!” tiba-tiba lelaki itu sudah ada di depan muka Key dan dia melayang-layang.

“lo takut sama gue..?” tanya lelaki itu dengan santainya.

Key ingin berkata banyak kepada lelaki itu tapi sesuatu menahan pita suaranya. Keringat Key malah makin banyak, ketika lelaki itu terus memandangi Key, tangannya bergerak, lalu jari tengahnya menyentuh tengah-tengah kening Key, membuat Key makin ketakutan.

“hey.. bodoh, apa gak bisa lo ngomong sedikit..!? kalo gak ngomong, gue…”

“i..i.iya..!!”

Baru Key berkata se-sedikit itu, lelaki itu langsung mundur dengan kecepatan super sampai berdiri di ujung tempat tidur, hingga membuat Key kaget.

“lo siapa..??” Key mulai bisa membuka mulutnya.

“gue.. masih tanya.. bukannya lo udah tahu..!”

Key mengernyitkan dahinya, “Frish..??” dan nama itu yang keluar.

Lelaki itu tersenyum, “thank’s ya.. udah nemuin diary gue..!”

Senyuman Frish itu membuat Key merasa lebih tenang, “maksud lo..?”

“iya… itu kan diary gue, tapi kalau lo yang nemuin itu, itu adalah kesengajaan dari gue, maksud gue.. gue sengaja nyimpen diary gue di rumah itu biar lo temuin..!” jelas Frish.

“kenapa..?” Key bingung.

“karena ‘dia’ bakal dateng ke sisi lo..!”

“’dia’..?? ‘dia’ siapa..?”

“kembaran gue, namanya Clash..!”

“Clash..?? terus apa hubungannya sama gue..?” Key makin bingung.

“kalau mau to the point sih, gue mau minta bantuan lo gitu..!”

“bantuan..?? lo tuh hantu, gue manusia, dan lo minta bantuan ke gue.. apa gak aneh namanya..!??”

“eh.. gue bukan hantu, gue iblis, kalo bahasa kerennya sih Devil..!!”

“hah.. iblis kok punya kembaran..?”

“ya punya.. dan kembaran gue itu ngebunuh cewek gue, manusia, soalnya dia pengen jadi manusia kayak gue waktu itu..!”

“lo jadi manusia.. makin gak ngerti deh gue..!”

Frish menarik nafas panjang lalu duduk di bangku belajar Key, dia menyalakan rokok dan menghisapnya, membuat tatapan tajam muncul di mata Key. Frish pun mulai segera menjelaskan.

“gue itu Cuma bisa dilihat sama manusia kalo gue pengen, tapi gue juga bisa jadi manusia dengan beberapa syarat yang gak bisa gue sebutin sekarang, entar lo ngeri lagi, terus akhirnya gue bisa menuhin semua syarat dan jadi manusia, belum sempurna sih.. tapi kembaran gue belum bisa jadi manusia sedikitpun, terus dia bilang sama cewek gue kalo gue itu iblis dan ngebunuh cewek gue, terus karena identitas gue diketahui sama manusia yang gak pernah tahu dari sebelumnya, gue berubah lagi jadi iblis dan jasad manusia gue diambil sama Clash..!” ujar Frish panjang lebar dan Key mendengarkannya dengan seksama, tapi akal sehatnya masih gak bisa menerima.

“terus.. sekarang secara gak langsung lo bilang sama gue kalo Clash itu iblis, berarti bentar lagi juga dia bakal jadi iblis lagi kan..?” Key mencoba mencerna kata-kata Frish.

“.. .. .. ya bukan gitu.. sekarang lo kan belum ketemu Clash, lo duluan ketemu gue, lagipula Clash gak akan balik dengan cara segampang itu..!” kata Frish yang sekarang mukanya mulai dengan mimik serius. Dia berdiri.   “Frish.. jangan ngerokok disini..!!” larang Key.

“gak kan ketahuan sama siapa-siapa kok..!!” Frish kembali merokok, “.. Clash itu jadi manusia salah satunya karena ngebunuh manusia, itu ngebuat dia susah lagi untuk balik jadi iblis, juga untuk mati.. gue udah kejar dia kemana-mana, tapi gak ada yang bisa bantuin gue..”

“lo pikir gue bisa..??”

of course you be able to miss..!! dan harus bisa, karena kalo enggak lo tahu sendiri akibatnya..!” ancam Frish.

“apa..??” tantang Key.

“ada.. sekarang lo tidur, udah malem, besok lo siap-siap aja..”

Dan Frish berjalan ke balkon dan hilang entah kemana. Key hanya bisa menerawang karena masih tidak percaya apa yang terjadi padanya detik tadi. Mungkin mimpi.

 

***

 

Key sudah bersiap pagi ini di depan cermin dengan seragam hitam putihnya itu, hari ini dia pakai rompi dan jas warna merah marun tak lupa juga dengan dasinya yang warnanya sama dengan jas yang dia pakai. Seragam itulah yang membuat Key harus masuk sekolah itu dulu. Pagi ini rambut panjang ikalnya dia ikat ke belakang yang memang harus jadi trademark-nya dia kalau olahraga.

Key Melihat diary di atas meja belajarnya sudah kembali lagi ke tempatnya, Key jadi teringat kejadian semalam yang mulai Key percaya sebagai kenyataan dan bukan lagi mimpi. Tiba-tiba Key mulai merasa jatungnya berdetak tidak seperti biasanya mengingat kata Frish untuk bersiap-siap hari ini.

Tapi Key mulai menepis semua ketakutannya itu dengan berkata, “ganbatte Key.. this is your day..!!” Key menyambar tasnya dan langsung pergi ke sekolah bersama ayahnya.

 

Hari pertama tanpa Ran, dia jalani dengan senang aja, soalnya masih banyak teman yang bisa dia ajak bicara, namun bangku di sebelahnya kosong, Gak ada yang bisa diajak bercanda pas pelajaran.

Gak lama setelah bel masuk berbunyi, wali kelas datang, bikin aneh semua murid karena bukan jadwalnya. Dia mulai bicara di depan kelas.

“hari ini, di tahun ajaran baru, kalian juga akan bertemu dan punya teman baru yang hari ini juga akan mulai menjadi warga baru kalian.. masuk nak..!!” wali kelas itu mempersilahkan masuk kepada seseorang yang ada di luar kelas.

Seorang lelaki bertubuh tinggi, kulitnya putih, matanya sipit, rambutnya panjang sebahu-gaya-gaya oriental lah-, masuk ke kelas Key.

“ayo perkenalkan dirimu..!” pinta wali kelas.

“saya Clash..”

Key terperanjat, dia langsung berdiri dari tempat dia duduk, perkenalan lelaki bernama Clash itu terhenti.

“kenapa kamu Key…?” tanya wali kelas.

Key tidak menjawab dan langsung berlari menuju toilet.

“wooi..!” seseorang menarik rambutnya. Tepatnya bukan orang karena yang menarik rambutnya itu Frish.

“Frish.. ngagetin gue aja..!” ujar Key.

“lo ngapain lari-lari kesini..??” tanya Frish.

“gue takut.. Clash dateng, dia mirip banget sama elo..!” kata Key ketakutan.

“tapi lo tolol, ngapain juga lo langsung lari pas ngeliat dia, kalo dia curiga entar gimana..!” sambar Frish.

Key melotot, “siapa yang tolol, elo kali.. sekarang gimana kalo dia tahu lo ada di deket dia..?”

“gini… dia boleh punya ilmu, tapi bukan berarti gue enggak, sekarang dia bukan pure iblis, dia gak bisa seenaknya make kekuatan dia dimana aja kayak gue.. dan yang penting dia gak bakal pernah tahu kalo gue lagi ada di deket dia, kalo bukan lo yang ngasih tahu..” ujar Frish.

“lo ngancem gue lagi..!”

“enggak.. sekarang kalo lo terus takut sama Clash, dia bisa ngelakuin apa aja sama elo..” Frish menancapkan matanya ke mata Key sekarang, membuat Key mundur, “..dia pernah ngebunuh cewek gue lho..!”

Dalam ketakutannya akhirnya Key bicara, “menurut lo gue musti gimana..??”

Frish hanya tertawa kecil.

 

***

 

Bel istirahat berbunyi, Key baru sampai ke kelasnya, dia butuh waktu untuk menerima semua ini. Masuk ke kelas, dia kaget karena bangkunya dikerubungi banyak orang, gak cowok gak cewek.

“wooi.. apaan nih..?!” sambar Key. Lalu Key terkejut dengan siapa orang yang dikerubungi itu. Clash.

“bangku lo..??” tanya Clash datar. Key hanya mengangguk, “..sorry ya, yang punya mau duduk, ntar lagi aja ngobrolnya..!” pinta Clash pada orang-orang yang ada disitu.

Key segera duduk di sebelah Clash yang memang adalah bangkunya sejak semula.

“kenapa lo duduk disini..?” tanya Key mencoba biasa.

“katanya yang duduk disini baru aja pindah sekolah dan gak ada lagi bangku kosong, jadi gue disuruh duduk disini..!” ujar Clash.

Key memperhatikan terus ketika Clash bicara, dan cara bicaranya itu benar-benar mirip sama Frish. Semuanya mirip sama Frish, kecuali di tubuhnya itu tak ada tindikan satupun dan lengannya juga bersih tanpa tatto.

“kantin dimana ya..?” pertanyaan Clash membuat lamunan Key buyar.

 

Key berjalan di samping Clash sekarang, dia sebenarnya ingin berpikir kalo sekarang dia sedang berada di dekat iblis. Tapi, dengan santai Key memperlihatkan seisi sekolah pada Clash. Di sepanjang jalan, tak pernah ada satu matapun yang tidak tertuju pada Clash. Clash sudah menggantikan posisi cowok terpopuler di Anesh.     Akhirnya mereka sampai juga di kantin.

“Key.. dari tadi lo kayaknya gak pernah senyum..?” tanya Clash ketika mereka duduk di salah satu bangku kantin.

“gak juga, gue emang kayak gini kali..! lo mau pesen apa, entar gue panggilin..”

“Key..!” seorang lelaki menghampiri Key.

Key langsung terhenyak dan mendongak, “Wayne..” dan Key langsung gembira melihat Wayne ada disitu lalu memeluknya.

“akhirnya kita bisa juga ketemu.. sorry waktu Ran pergi, gue gak sempet nganter dia ke bandara..! oh ya.. katanya lo waktu itu sakit.. sorry juga gue gak sempet nengok..!” kata cowok yang gak kalah cakep dari Cristiano Ronaldo itu.

“gak apa-apa lagi.. sekarang kita ketemu juga gue seneng.. lo kan lagi ada turnamen, pasti sibuk..!” ujar Key, dan setelah agak lama Key baru ingat pada Clash, “..Wayne.. ini anak baru di kelas gue, namanya Clash..! Clash.. ini Wayne, anak 2-A-3, dan dia..”

“Wayne.. mantannya Key..!” kata Wayne, membuat Clash mengernyitkan dahinya.

“lo masih bangga ya sama kata itu.. ‘mantannya Key’, itu kan bisa bikin status cowok-nomor-satu lo turun..!” kata Key sambil memukul bahu Wayne, dan mereka tertawa bersama.

“gue mau bilang apa lagi, orang Cuma lo kok pacar gue disini.. lagian katanya ada yang udah nurunin status gue gitu..”

“oh ya.. terus lo gimana..?”

“gue sih gak apa-apa.. asal dia enggak macarin mantan gue..!”

Key langsung melancarkan pukulannya bertubi-tubi pada Wayne. Mereka memang selalu begitu. Bercanda-nya gak ketulungan dan itu yang membuat mereka gak bisa jadi pacar. Lebih cocok jadi tandem, partner, atau sahabat juga boleh.

 

***

 

“Wayne beneran mantan lo Key..?” tanya Clash tiba-tiba ketika mereka baru sampai di bangkunya.

“gak nyangka ya..!!” Key Tertawa. “..tapi itulah kenyataannya, walaupun Cuma dikit yang setuju waktu gue jadian sama dia.. tapi kita itu cocok aja, walaupun akhirnya cocoknya bukan jadi pacar, tapi jadi sahabat juga cukup..!”

“terus.. maksud cowok-nomor-satu yang lo bilang tadi..?”

“oh..dia itu kapten tim sepakbola, keren banget maennya, selain itu dia juga ganteng banget, selalu dikerubungin banyak cewek, diteriakin, pokoknya paling top deh di Anesh..! walaupun suka saingan sama ketua OSIS yang dulu.. soalnya sama-sama gantengnya sih..” ujar Key.

“oh.. emang cocok dia jadi orang keren..!”

“maksud lo..?”

Clash menggeleng, dan sekarang dia mulai memikirkan sesuatu. Tentang Key.

 

ba

 

Key kaget ketika dia menemukan Frish sudah berada di atas tempat tidurnya sambil merokok.

“wooi.. berapa kali gue bilang jangan ngerokok disini..!!” kata Key sambil melemparkan tasnya.

“lo udah jalan jauh ya..! gak percuma gue minta tolong sama lo..!” kata Frish sambil mematikan rokoknya.

“maksud lo Clash..? itu sih karena dia-nya aja yang supel banget, gue lagi takut dia malah ngajak ngomong..!”

“sama gue kok enggak..?”

“orang lo dateng tiba-tiba gitu, terbang kesana-kesini, pake baju aneh, gimana gue gak takut..!” Key cemberut, Frish malah ketawa, “… ada yang mau gue tanyain..!”

“apa..?”

“kenapa kalian pengen jadi manusia..?”

“ada tujuannya..”

“apa..?”

“kalo gue.. karena waktu itu gue cinta banget sama seseorang, gue pengen banget jadiin dia milik gue, selamanya gue hidup sama dia.. tapi Clash ngancurin semuanya..!” kata Frish datar.

“terus tujuan Clash..?”

“kalo Clash.. dia pengen jadi orang yang berkuasa, walaupun bukan nguasain dunia, tapi dia selalu gak mau jadi nomor dua, tapi ternyata selalu gue yang jadi nomor satu di dunia gue, juga yang duluan jadi manusia.. kalo di dunia gue, iblis kayak gue dan Clash itu belum boleh ngapa-ngapain, makanya udah jadi tren, iblis seumuran kita buat nyoba jadi manusia, biar bisa.. seenggaknya pacaran..” ujar Frish.

“oh..” Key lalu diam lagi, tapi dia teringat sesuatu, “hah.. dia pengen berkuasa..!! Wayne gimana..??” sambar Key panik.

“Wayne siapa..?”

“pantes aja tadi dia nanya tentang cowok-nomor-satu di sekolah.. jangan-jangan dia mau ngegusur posisi Wayne dari kapten tim sepakbola..!” Key masih kepanikan.

“sepakbola..?? tapi Clash gak bisa maen bola..!”

“hah.. tetep aja..!”

 

***

 

“sekarang gue musti gimana..??” Key benar-benar panik pagi ini sampai-sampai dia memanggil Frish ke kamarnya sebelum dia berangkat sekolah.

“nyantai aja..!! lagian Wayne itu siapa elo sih..?”

“dia… pokoknya dia berarti banget buat gue, kalo Clash berbuat sesuatu yang enggak-enggak sama Wayne kan kasihan..!”

“intinya sekarang lo harus fokus sama pertolongan lo ke gue, biarin aja dia ngelakuin semua yang dia mau dulu, kalo perlu lo dukung dia..!” ujar Frish.

“lo jangan egois gitu dong..! mikirin Wayne juga..!!”

“satu lagi..!! lo harus mikir positif.. Wayne gak bakal kenapa-kenapa.. gue jamin..!!”

Lalu Key berpikir sambil panik di dalam hati sampai tiba-tiba Frish menghilang.

“Frish..!!!”

 

***

 

Lima belas menit sebelum masuk, Key baru sampai ke bangkunya dan disana sudah ada tas milik Clash. Kepanikan Key mulai lagi, tapi…

“Key..!” seseorang mengagetkannya.

“Wayne..!! ngagetin aja..!” tegur Key.

“sorry.. tapi gue belum sarapan, lo mau gak temenin gue..??” pinta Wayne agak memelas.

Key menarik nafas panjang, “..lima belas menit lagi kita mau masuk, gimana bisa lo sarapan sebegitu bentarnya..!!” ujar Key sambil meletakkan tas punggungnya di bangku.

Wayne malah mengernyitkan dahinya, “emangnya lo belum tahu..?!”

“apa..?” Key jadi bingung.

“dua jam pelajaran pertama sekarang kita bebas dulu, soalnya ada pendaftaran calon ketua OSIS. Di depan ruang OSIS sekarang lagi seambruk murid-murid yang mau daftar..!” ujar Wayne.

“oh gitu ya..!” jawab Key datar.

“ya iya.. makanya orang ngomong tuh dengerin..” kata Wayne sambil mengacak-acak rambut Key yang terurai, “..nah, sekarang temenin gue sarapan..!” sambar Wayne merangkul leher Key.

 

“oh ya Key.. tadi gue lihat di bangku lo ada yang nempatin gitu, siapa..??” tanya Wayne yang baru saja melahap Nasi Goreng-nya yang pertama.

“oh itu.. anak baru yang kemarin gue kenalin ke elo, yang namanya Clash itu..!” jawab Key sambil menyeruput susu kotaknya.

“oh dia..!! tadi juga gue lihat dia ada di deretan pertama yang mau daftar jadi ketua OSIS.. padahal dia anak baru…”

“hah..” Key hampir tersedak mendengar kata-kata Wayne barusan, “..dia daftar jadi ketua OSIS..?” Key ingin menegaskan dan Wayne mengangguk yakin.

“gue lihat banget, dia itu kayaknya kandidat terkuat, soalnya namanya aja di tempatin di deretan pertama sama anak kelas 3..!”

Key sekarang mengerti, dia juga ingat yang dikatakan Frish soal Clash yang gak bisa maen bola, ternyata Clash memang pengen jadi orang nomer satu di Anesh.

 

***

 

Frish dengan santai memakai kemeja tanpa lengan warna hitam yang memperlihatkan tatto besarnya yang hitam juga. Dia sudah ada di kasur Key sekarang, masih dengan santai memperhatikan Key yang mondar-mandir di depannya semenjak setengah jam yang lalu.

“gue ngerti sekarang, Clash bukannya mau ngegusur posisi Wayne, tapi dia mau nyaingin Wayne, dan selanjutnya dia bener-bener bakal ngilangin Wayne dari ingatan murid-murid di sekolah sedikit-sedikit..!” kata Key beranalisa.

Frish menarik nafas panjang dan tersenyum kecil, tapi juga dia tampak berfikir, “mm.. Key, lo punya foto Wayne..?? kalo bisa yang sendiri..”

“ada.. ambil aja di laci situ, tapi gak sendiri..!”

Frish pun segera menuju laci tempat menyimpan lampu dan dia menemukan sebuah foto berbingkai pink, “mesra banget lo sama Wayne.. kalian pacaran..?”

“waktu difoto sih iya.. sekarang Cuma jadi sobat.. sejati..!!” tegas Key.

Frish mencoba memperdalam untuk menelaah Wayne dalam foto itu, setelah agak lama lalu dia tertawa.

“kenapa lo malah ketawa Frish..?” Key jadi bingung.

“gue ngerti sekarang.. kayaknya dia mulai haus cewek..!!”

“maksud lo..??”

“dia gak butuh buat dipuja sama seluruh murid, tapi cukup sama cewek-cewek aja.. menurut lo semua orang di sekolahan lo, gak terkecuali, mau cewek atau cowok, nge-fans sama Wayne..??”

“enggak semuanya, malahan cowok-cowok banyak yang sirik sama gantengnya dan kerennya Wayne waktu maen bola..!” ujar Key.

“terus.. ada gak murid yang pernah disukain sama semua murid di sekolah..?”

“ada juga.. kalo itu cewek, dia ketua OSIS yang kemaren, waktu gue pertama masuk, cowok-cowok gak ada yang gak suka, cewek-cewek juga gak ada yang sirik, soalnya dia itu baik banget, lembut, cantik dan gak so’ berkuasa..! emangnya kenapa sih..? nanya kok sebanyak itu..!”

“he..he..he.. masa gak ngerti-ngerti, Clash itu pengen dikerubungin cewek-cewek kayak Wayne.. semua cewek sekolahan lo, dan dia gak pengen disaingin sama Wayne..!” kata Frish. Dia pun berdiri dan bilang, “..gue pasti bantuin lo biar Wayne gak kenapa-napa.. lo tenang aja.. rencana pertama sekarang lo terus ngomong sama Clash biar kalian lebih deket oke..!!”

Frish pun pergi entah kemana. Key agak mengernyitkan dahinya dan sempat terlintas di benaknya, iblis ini memang egois atau perasaan gue aja..

 

***

 

Key sudah di depan bangkunya sekarang, lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi. Dan seperti biasa, tas Clash sudah nongkrong di bangku sebelahnya, tanpa ada orangnya. Key segera menyimpan tas dan berjalan keluar dengan maksud mencari Clash.

Sambil menyeruput susu kotak yang sengaja dia bawa dari rumah, Key jalan di koridor sekolah sampai akhirnya dia berhenti di depan ruang OSIS. Tak banyak orang disana, hanya ada kira-kira 10 orang, 6 diantaranya Key kenal betul, mereka adalah anak OSIS kelas 3, Troy, May, Josh, Happy, Cecille, dan satu lagi Clash. Empat yang lainnya dia tahu itu masih kelas 2 tapi gak kenal betul.

“ngapain dia disitu..??” gumam Key.

Key pun melirik ke sebuah kertas yang tertempel di depan jendela ruang OSIS. Disana tertera nama-nama murid Anesh dari berbagai kelas berjumlah 30 orang. Key lihat ada 10 nama yang dicoret tinta merah, 10 orang dicoret warna biru, dan 5 orang lagi dicoret warna hitam. Lima sisanya di ceklis warna hijau, dan diantara nama itu ada nama Clash yang ternyata memang benar ada di urutan pertama.

Setelah agak lama Key disitu, yang di dalam ruang OSIS tersebut keluar semua, Clash pun menyapanya.

“Key.. lagi apa..?” tanya Clash.

“hai.. nyariin elo..!” jawab Key dengan senyuman, tapi Clash malah bingung.

“nyariin gue.. ngapain..? senyum-senyum gitu lagi..!” ujar Clash.

Seorang anak kelas 3 keluar juga sambil membawa sebuah spidol, dan dia mencoret dua nama dari lima nama yang belum tercoret, yaitu nama di urutan ketiga dan keempat.

“Clash..! lo jadi kandidat ketua OSIS, selamat ya..! gue pasti vote elo deh..! kantin yuk..??!” ajak Key girang. Dan itu malah membuat Clash tambah bingung, tapi akhirnya cowok bertipe oriental itu tersenyum sedikit-sedikit.

Jubah hitam Frish berkibar-kibar diterpa angin kencang, tentu saja, orang dia ada di atas genteng tanpa ekspresi melihat Clash dan Key berjalan berdampingan. Rasa dendam, obsesi, rasa persaudaraan, rasa bersalah, dan rasa yang baru muncul, semua bertumpuk di pikiran Frish juga di hatinya.

 

***

Author:

From individual become social person. Taking a chance even in a really uncomfortable situation.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s